Rabu, 17 November 2010

bencana ketidakadilan

Semalam, Grobogan Bertakbir
GROBOGAN-Gema takbir semalam dikunmandangkan hampir di seluruh penjuru pelosok Kabupan Grobogan. Gema takbir sebagian ada yang dikumandangkan di mushola, masjid maupun rumah-rumah penduduk. Bahkan, sebagian mereka juga ada yang bertakbir dengan cara berkeliling kota.
Salah satu desa yang menggelar takbir keliling adalah Desa Ringinharjo, Kecamatan Gubug. Di desa, sebagian anak-anak bertakbir dengan cara keliling kampung.
Untuk takbir semalam suntuk biasanya digelar di masjid dan mushola,” ujar tokoh masyarakat setempat, Muhlis Asykuri.
Gema takbir juga dikunmadangkan masyarakat Desa Tambakselo, Kecamatan Wirosari. Sama seperti di Desa Ringinharjo, di Desa Tambakselo takbir dikumandangkan masyarakat begitu sholat maghrib usai. Namun, karena musim penghujan, untuk malam ini di tambak selo tidak dilakukan takbir keliling. Sementara saat idul fitri yang lalu, masyarakat menggelar takbir keliling.
Masyarakat memilih mengumandangkan takbir di mushola dan masjid,” kata Asrori, masyarakat setempat.
Untuk lomba takbir keliling digelar di Kota Wirosari. Lomba takbir dilaksanakan dalam rangka untuk menyemarakkan datangnya hari raya Idul Adha tahun 1431 Hijriyah. Lomba takbir tersebut diikuti siswa MTs/SMP, SD/MI dan Taman Pendidikan Alqur'an (TPQ) serta Madrasah Diniyah (Madin). Kegiatan dipusatkan di Kantor Kawedanan Wirosari.
Rozikun MPd.I, selaku penasehat panitia mengatakan, lomba tersebut tujuan utamanya adalah untuk syiar. Dimana, momentum idul kurban menjadi wahana yang tempat untuk menggelar acara tersebut. Selain itu, acara tersebut juga dimaksudkan untuk mengenalkan perintah takbir di hari raya idul adha kepada anak-anak.
"Karena itu, kami sengaja mengkhususkan acara tersebut untuk anak-anak SMP/MTs, SD/MI dan TPQ serta Madin," ujar Rozikun yang alumni pasca sarjana Universitas Nadhatul Ulama (UNU) Surakarta tersebut.
Dewan yuri menilai masing-masing kelompok yang beranggotakan 30 siswa. Yakni, kerapian, keindahan, kemerduan dan kefasihan suara. Selain itu, musik tradisional yang mengiringi takbir juga akan menjadi faktor penilaian. Nantinya, panitia akan memberikan hadiah berupa uang pembinaan. Selain itu, panitia juga akan menyiapkan hadiah dorprize berupa hewan kambing.

gema takbir grobogan

Kumandang Takbir Dari Grobogan
GROBOGAN-Gema takbir semalam dikunmandangkan hampir di seluruh penjuru pelosok Kabupan Grobogan. Gema takbir sebagian ada yang dikumandangkan di mushola, masjid maupun rumah-rumah penduduk. Bahkan, sebagian mereka juga ada yang bertakbir dengan cara berkeliling kota.
Salah satu desa yang menggelar takbir keliling adalah Desa Ringinharjo, Kecamatan Gubug. Di desa, sebagian anak-anak bertakbir dengan cara keliling kampung.
Untuk takbir semalam suntuk biasanya digelar di masjid dan mushola,” ujar tokoh masyarakat setempat, Muhlis Asykuri.
Gema takbir juga dikunmadangkan masyarakat Desa Tambakselo, Kecamatan Wirosari. Sama seperti di Desa Ringinharjo, di Desa Tambakselo takbir dikumandangkan masyarakat begitu sholat maghrib usai. Namun, karena musim penghujan, untuk malam ini di tambak selo tidak dilakukan takbir keliling. Sementara saat idul fitri yang lalu, masyarakat menggelar takbir keliling.
Masyarakat memilih mengumandangkan takbir di mushola dan masjid,” kata Asrori, masyarakat setempat.
Untuk lomba takbir keliling digelar di Kota Wirosari. Lomba takbir dilaksanakan dalam rangka untuk menyemarakkan datangnya hari raya Idul Adha tahun 1431 Hijriyah. Lomba takbir tersebut diikuti siswa MTs/SMP, SD/MI dan Taman Pendidikan Alqur'an (TPQ) serta Madrasah Diniyah (Madin). Kegiatan dipusatkan di Kantor Kawedanan Wirosari.
Rozikun MPd.I, selaku penasehat panitia mengatakan, lomba tersebut tujuan utamanya adalah untuk syiar. Dimana, momentum idul kurban menjadi wahana yang tempat untuk menggelar acara tersebut. Selain itu, acara tersebut juga dimaksudkan untuk mengenalkan perintah takbir di hari raya idul adha kepada anak-anak.
"Karena itu, kami sengaja mengkhususkan acara tersebut untuk anak-anak SMP/MTs, SD/MI dan TPQ serta Madin," ujar Rozikun yang alumni pasca sarjana Universitas Nadhatul Ulama (UNU) Surakarta tersebut.
Dewan yuri menilai masing-masing kelompok yang beranggotakan 30 siswa. Yakni, kerapian, keindahan, kemerduan dan kefasihan suara. Selain itu, musik tradisional yang mengiringi takbir juga akan menjadi faktor penilaian. Nantinya, panitia akan memberikan hadiah berupa uang pembinaan. Selain itu, panitia juga akan menyiapkan hadiah dorprize berupa hewan kambing.(slk)

bencana ketidakadilan

Mahfud MD : Ancaman Negara Adalah Bencana Ketidakadilan
Rabu, 17 November 2010 10:01
Makassar, NU Online
Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD mengingatkan ancaman dan bencana terbesar yang dihadapi bangsa adalah ketidakadilan.

"Maraknya jual beli hukum adalah bencana ketidakadilan, bencana besar yang harus dipertahankan dengan nasionalisme. Negara yang tidak dapat menegakkan hukum akan hancur dimanapun dan dimasa apapun," katanya di Makassar, Kamis.

Hal tersebut diungkapkannya pada ceramah dengan tema berkurban dalam ajaran Islam dengan konteks keadilan yang berkonstitusi usai pelaksanaan shalat Idul Adha di Mesjid Al-Markaz Al-Islami Jenderal M.Yusuf.

Diantara jamaah, juga tampak hadir mantan Menteri Hukum dan HAM Hamid Awaluddin dan Mantan Wakil Presiden RI HM Jusuf Kalla serta Sekretaris Daerah Provinsi Sulsel Andi Muallim.

Sebagai Ketua Harian Badan Pengurus Yayasan Islamic Center, Jusuf Kalla mengimbau agar jamaah menambah jumlah sumbangannya ke dalam kotak amal mesjid.

50 persen dana yang dihimpun dari kotak amal akan disumbangkan bagi korban bencana gempa dan tsunami di Mentawai Sumatera Barat dan erupsi Gunung Merapi di Jawa Tengah dan DI Yogyakarta.

Sementara itu, pengurus mesjid juga telah menyiapkan 15 karung pakaian dan uang tunai senilai Rp5 juta untuk disumbangkan bagi korban bencana di wilayah tersebut. (ant/mad) :(sumber nuonline)

Selasa, 16 November 2010

haji

Dua Warga Afsel Naik Haji dengan Bersepeda
Selasa, 16 November 2010 17:00
Makkah, NU Online
Dua belas negara, memakan waktu sembilan bulan, dan menempuh jarak ribuan kilometer, telah ditempuh oleh dua orang warga Afrika Selatan ini untuk mewujudkan mimpinya naik haji ke Makkah. Dua warga Cape Town itu, Nathim Cairncross (28) dan Ahmad Haron (25) hanya menggunakan sepeda untuk melintasi benua Afrika yang panas menuju Arab Saudi.

Keduanya melintasi perbatasan Arab Saudi pada akhir Oktober lalu, tiba hampir tiga pekan sebelum ritual haji dimulai di Makkah. Rangkaian ibadah haji dimulai Ahad kemarin, 14 November 2010.

Ide menunaikan ibadah haji dengan menggunakan sepeda itu muncul dari Haron Desember 2009. Kala itu, ia menyampaikan ide tersebut kepada sahabatnya Cairncross setelah membaca tulisan mengenai ibadah haji yang dihadiri lebih dari dua juta umat Muslim dari seluruh dunia ini.

''Dalam kehidupan, saya mempunyai prinsip,'' ujar Cairncross kepada Al Jazeera. ''Jika saya bekerja keras untuk mendapatkan sesuatu, di akhirnya pasti akan didapat. Setelah sembilan bulan mengayuh sepeda melintasi Afrika menuju Timur Tengah, tentu saja, saya mendapatkan nilai lebihnya.''

Perjalanan melintasi Benua Afrika itu dimulai pada 7 Februari 2010, di pagi yang dingin dan berhujan di sebuah masjid di Cape Town. Sekitar 500 orang mengiringi kepergian keduanya seraya memanjatkan doa keselamatan. Berbekal peta, mereka menyusuri negara-negara di Afrika yang gersang.

''Kami bukan pengendara sepeda yang profesional,'' ujar Cairncross. ''Tapi kami telah latihan fisik sejak dua bulan sebelum berangkat, seperti mendaki gunung, berlari di pantai, dan berenang.''

Untuk mewujudkan rencana itu, keduanya tidaklah mudah. Ada pula sebagian masyarakat yang coba menghalangi kepergian itu dengan alasan mustahil bisa dilakukan. Namun tanpa rasa takut, teman-teman mereka ikut merancang perjalanan haji itu, berkonsultasi dengan departemen lalu lintas Afrika Selatan untuk memastikan keduanya bisa bersepeda dengan aman, mengurus visa, dan meminta nasihat medis dari dokter. ''Kami sampai dikatakan orang gila,'' ucap keduanya.

Dalam perjalanan panjang itu, keduanya melalui negara di antaranya Botswana, Zimbabwe, Mozambik, Malawi, Tanzania, dan Zanzibar. Setiap hari, mereka bersepeda sepanjang 80-100 kilometer, dimulai sejak usai salat Subuh dan berhenti saat waktu malam. Terkadang, keduanya bermalam di penginapan, berkemah, atau di masjid.

Di saat bermalam itu, tak jarang keduanya menceritakan kisah perjalanan dan tujuannya. Masyarakat setempat banyak yang tersentuh dan kemudian membantu memberikan penginapan dan makan gratis. Selama di perjalanan itu, keduanya juga memanfaatkannya untuk menjelaskan tentang Islam dan ibadah haji kepada penduduk yang dijumpai.

''Dengan bersepeda, anda dapat berbicara dengan banyak orang,'' tutur Cairncross. ''Namun jika menggunakan pesawat atau mobil, Anda tak akan mendapatkan kesempatan seperti itu. Selama perjalanan, Anda juga bisa belajar lebih banyak, mengenali diri anda sendiri. Ini merupakan pengalaman yang nyata.''

Perbedaan bahasa terkadang menjadi kendala selama perjalanan. Lantas masalah ban bocor, rantai sepeda rusak, atau sadel yang bermasalah. Namun mereka bersyukud karena selama perjalanan tak pernah mendapatkan masalah keamanan. Meski tak mempunyai uang yang banyak, keduanya tak pernah kesulitan mendapatkan tempat bermalam atau makan.

Dalam perjalanan itu, keduanya bahkan sempat singgah ke Yerusalem dan mengunjungi Masjid Aqsha. Melintasi perbukitan Petra dan Laut Mati di wilayah Yordania. Keduanya singgah terlebih dahulu di Madinah sebelum melanjutkan perjalanan ke Makkah. Seperti halnya ketika memulai perjalanan, keduanya tiba di Makkah dengan naungan awan mendung yang pekat.

''Sungguh luar biasa,'' ungkap Cairncross bahagia. ''Guntur dan kilat menyambut kedatangan kami di Makkah untuk melihat Ka'bah pertama kalinya.''

''Melakukan tawaf dengan pakaian ihram dengan hujan yang mengguyur, sepertinya Allah memberikan rasa kasihnya kepada kita. Semoga Allah menerima usaha keras kita ini.'' (bil/kemenag)?sumber :nuonlien

Minggu, 14 November 2010

lomba takbir wirosari

Di Wirosari, Lomba Takbir Berhadiah Kambing
GROBOGAN-Untuk menyemarakkan datangnya hari raya idul adha, akan digelar lomba takbir. Lomba takbir yang akan diikuti siswa MTs/SMP, SD/MI dan Taman Pendidikan Alqur'an (TPQ) serta Madrasah Diniyah (Madin) itu akan dipusatkan di Kantor Kawedanan Wirosari. Yakni, pada Selasa malam besuk. Lomba tersebut akan diberikan hadiah uang pembinaan dan 10 ekor kambing sebagai hadiah dorprize.
Rozikun MPd.I, selaku penasehat panitia mengatakan, lomba tersebut tujuan utamanya adalah untuk syiar. Dimana, momentum idul kurban menjadi wahana yang tempat untuk menggelar acara tersebut. Selain itu, acara tersebut juga dimaksudkan untuk mengenalkan perintah takbir di hari raya idul adha kepada anak-anak.
"Karena itu, kami sengaja mengkhususkan acara tersebut untuk anak-anak SMP/MTs, SD/MI dan TPQ serta Madin," ujar Rozikun yang alumni pasca sarjana Universitas Nadhatul Ulama (UNU) Surakarta tersebut.
Lomba takbir tersebut akan dimulai sekitar pukul 19.00 WIB. Nantinya, peserta akan mengelilingi sejumlah rute di ibukota Kecamatan Wirosari. Namun, jika terjadi hujan, maka pelaksanaan takbir akan dilaksanakan di tempat tersebut atau tidak keliling. Untuk masing-masing sekolah atau group beranggotakan 30 anak.
Dewan yuri nantinya akan menilai masing-masing kelompok. Yakni, kerapian, keindahan, kemerduan dan kefasihan suara. Selain itu, musik tradisional yang mengiringi takbir juga akan menjadi faktor penilaian. Nantinya, panitia akan memberikan hadiah berupa uang pembinaan. Selain itu, panitia juga akan menyiapkan hadiah dorprize berupa 10 ekor hewan kambing.(*)

Kamis, 04 November 2010

LKD PMII





Fungsionalisasi Nilai-Nilai Islam
Oleh : Sholihin Hasan*)
Disampaikan pada acara LKD PMII Cabang Blora di SMA NU Menden, 28 Mei 2009
_____________________
Misi penting yang diemban Nabi Muhamad SAW sebagai utusan Allah SWT adalah untuk memperbaiki akhlak atau moralitas umat manusia serta membebaskan dari kungkungan tradisi akidah jahiliyah. Nabi ditugaskan untuk mengembalikan derajat manusia pada posisinya sebagai makhluk yang paling mulia. Yakni, sebagai kholifah di muka bumi, membangun dunia demi untuk meraih kebahagiaan dunia dan akherat.
Untuk mewujudkan hal itu, langkah pertama yang dilakukan Nabi Muhamad SAW adalah memperbaiki akidah masyarakat pada masa itu. Akidah masyarakat yang meyakini banyak Tuhan dikembalikan pada keesaan Tuhan. Yakni, Allah SWT. Sementara itu, dari sisi moralitas, Nabi melakukan perbaikian secara setahap demi setahap.
Melalui perbaikan yang tahap demi tahap itu, Nabi berusaha untuk merubah seluruh tatanan social yang menyimpang. Seperti diskriminasi, penindasan, dan kepalsuan. Di kalangan masyarakat ditanamkan dan terus digelorakan bahwa untuk melihat sesuatu itu baik atau tidak, ukurannya tidak pangkat dan derajat yang tinggi, kekayaan dan kepuasan diri, kesewenang-wenangan dan menghalalkan segala secara, tetapi kebaikan itu ukurannya adalah moralitas. Nabi berusaha melawan penindasan, ketidak-adilan, kebodohan, keterbelakangan, kemiskinan, serta ketimpangan.
Akhirnya, setelah melalui perjuangan yang sangat keras, selama lebih dari 22 tahun, ayahanda Sayyidah Fatimah itu berhasil merubah keadaan. Masyarkat berhasil dibebaskan dari jalan kegelapan menuju yang terang benderang, dari jahiliyah menuju modern, dari menyembah polyteis menjadi monoteis, dari amoralitas menjadi moralitas, dan dari derajat yang hina menuju derajat yang mulia.
Suami Sayyidah Aisyah tersebut berhasil membawa masyarakat pada kehidupan yang penuh kedamaian, bantu membantu, realistis, menyintai alam, dan keindahan. Prinsip-prinsip kebenaran, kesetaraan social, dan pinisp-pinsip lain yang melandasi berdirinya komunitas yang bebas dan setara, berhasil diwujudkan. Sehingga apa yang disebut bahwa Al Islamu ya’lu wa la ya’la alaihi benar-benar dapat dirasakan umat pada masa itu.
Lalu, bagaimana dengan kondisi Sekarang?
Meski tidak persis sama, persoalan yang dihadapi Nabi pada masa itu sesungguhnya juga terjadi pada sekarang. Sebab, persoalan kemiskinan, kebodohan, keterbelangan, ketidakadilan, kesewenang-wenangan dan kedzaliman, saat ini sangat mudah untuk dijumpai. Keyakinan monoteis juga mulai terkikis. Terbukti, banyak orang mulai menuhankan selain Allah tanpa dia sadari.
Saat ini, pemeluk Islam di negei ini memang besar. Bahkan, di Indonesia pemeluk Islam menjadi mayoritas. Namun, pemeluk yang besar belum tentu bermakna besar. Sesuatu yang besar jika bermakna besar adalah lazim. Begitu juga sebalikanya, sesutau yang kecil jika memiliki makna kecil juga sebuah kelaziman. Yang tidak lazim adalah jika yang besar memiliki makna kecil dan yang kecil memiliki makna besar. Jika ada yang besar memiliki makna kecil, itu adalah kedunguan. Sebaliknya, jika ada yang kecil tetapi memiliki makna besar, itu adalah kecerdasan dalam kesyukuran.
Itulah kondisi umat Islam sekarang. Jumlahnya, mayoritas, tetapi dimainkan minoritas. Besar jumlahnya, tetapi perannya tidak signifikan. Persoalan kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan dan pengagguran masih melilit umat. Kita ingin Islam yang besar memiliki makna yang luar biasa besar.
Tawaran Solusi
Islam sebagai ajaran, dalam realitasnya sering dipahami sebagai jargon, retorika bahkan terekploitasi untuk kepentingan sesaat. Nilai-nilai rohmatallil’alamin belum bisa diimplementasikan dalam kehidupan nyata. Karena itu, sudah saatnya, kader-kader PMII segera melakukan reaktualisasi nilai-nilai yang terkandung dalam ajaran Islam agar dapat diimplementasikan dalam kehidupan riil. Sehingga Islam sebagai sebuah keyakinan betul-betul berfungsi di tengah-tengah kehidupan umat. Pendeknya, cara ini oleh DR H Eggi Sudjana MSi dikenal dengan istilah Islam Fungsional.
Islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan Hadits harus bisa berfungsi di tengah masyarakat. Fungsi Islam dapat direalisasikan oleh seluruh umat, baik secara individu maupun berjamaah. Islam fungsional tidak hanya releven untuk meningkatkan cita Islam, tetapi juga kontektual di tengah-tengah masyaakat. Islam fungsional akan menjadi motor penggerak bagi seluruh umat dalam mengimplementasikan ajaran Islam di kehidupan riil. Dengan cara itu seluruh poblema yang muncul bisa dipecahkan. Sehingga masyarakat akan bisa merasakan manfaat kehadiran Islam, karena terjadi perasaan dan tindakan saling baku urus atau bantu membantu dalam hal kebaikan dan ketaqwaan.
Islam fungsional juga akan menepis penyalahgunaan Islam sebagai jargon dan retorika politik. Menurut Egi Sudjana, Islam fungsional, mengusung sembilan pilar. Yakni, ketaatan, kejujuran, keadilan, kedamaian, kesejahteraan, ketertiban, keseteraan, kebebasan dan keselamatan.
Sementara mantan Perdana Mentei Malaisia, Abdullah Ahmad Badawi (Republika, 21 Juni 2006) melukiskan Islam Fungsional dengan mengharuskan setiap muslim untuk mendemonstasikan dalam teoi dan praktek. Bahwa Islam tidaklah bertentangan dengan modernitas. Umat Islam bisa menjadi modern tanpa harus menjadi barat atau westernisasi. Ini seperti yang digambarkan Muhamad Abduh (1849-1905) : orang muslim yang modern adalah mereka yang bisa memegang Al-Qur’an dan Hadist di stau tangan, sementara tangan lainnya menggenggam iptek. Dan menurut penulis, untuk kondisi persaingan global seperti sekarang ini, umat perlu ditambah ketrampilan.
Islam Fungsional di Malaisia mengusung 10 prinsip pendekatan.
  1. Keimanan dan kesholehan kepada Allah
  2. Pemerintah yang adil dan bisa dipercaya
  3. Kebebasan dan independensi rakyat
  4. Mencari ilmu pengetahuan dengan penuh semangat dan menguasainya
  5. Pembangunan ekonomi yang berimbang dan menyeluruh
  6. Kualitas hidup rakyat yang baik
  7. Perlindungan terhadap hak-hak minoritas dan kaum perempuan
  8. Integral moral dan budaya
  9. Penyelamatan atas SDA dan lingkungan
  10. Berusaha menjaga kapabilitas pertahanan
Islam Fungsional merupakan aplikasi ajaran Islam melalui kapasitas dan otoritas yang dimiliki tiap individu yang beriman kepada Allah, Baik dari sisi akidah, syariah maupun akhlak. Kapasitas dalam implementasi Islam fungsional adalah kemampuan (ilmu) dan sumberdaya. Sedangkan otoritas adalah kemampuan untuk menyuarakan dan menegakkan Islam diukur dari wewenang dan kekuasaan yang dimiliki oleh masing-masing individu.
Dari aspek kapasitas, banyak umat Islam yang faqih fiddin, faham agama, dan mengenyam pendidikan tinggi. Tetapi, mereka tidak fungsional dalam menegakkan syariat Islam. Mereka sibuk dengan urusannya masing-masing. Kemudian dari sisi otoritas, banyak umat Islam yang menjadi pemimpin pemerintahan. Sayang, keberadaan mereka kurang fungsional dalam pandangan Islam.
Karena itu, jika seluruh individu Islam bisa memfungsikan kapasitas dan otoritasnya sesuai nilai-nilai dan prinsip-prinsip Islam, maka umat Islam akan menjadi umat yang dihormati oleh kawan dan disegani oleh lawan. Islam yang besar juga akan bermakna besar.
Untuk mencapai itu semua, menurut Prof Dr Ir Muhamad Nuh DEA, umat Islam harus membuang stigma negative. Seperti infiority complex atau penyakit rendah diri dalam segala hal. Sebab, penyakit orang yang kalah biasanya sering menyalahkan orang lain. Seperti orang yang mencari jarum di luar rumah, padahal jarumnya jatuh di dalam kamar. Mereka tidak mau mencari jarum di kamar, disebabkan karena kamarnya gelap.
Selain itu, umat harus mengembangkan nilai keihlasan, sabar, tabah, punya ide besar dan melangkah dari yang sederhana serta setahap demi setahap. Jika kesadaran itu dimiliki masing-masing individu, maka melalui Islam Fungsional akan bisa membebaskan umat dari belenggu kemiskinan, kebodohan, dan keterbelakangan. (slk)
*) Penulis adalah wartawan Radar Kudus (Jawa Pos Group), Aktifis LP Ma’arif Blora

Senin, 01 November 2010

materi aswaja



Sejarah Terbentuknya NU
Situasi Politik Bangsa
Sebelum merdeka 17 Agustus 1945, Indonesia masuk dalam cengkrama penjajah. Yakni, Portugis, Belanda dan Jepang. Masa imperialis itu berlangsung sekitar 350 tahun. Untuk mempertahankan kekuasaannya, pemerintah colonial menghalalkan segala cara atau gelap mata. Seperti
  • Melaksanakan politik devide et impera (adu domba)-pelakunya dosa besar
  • Melaksanakan politik etis (berpura-pura baik)-munafek
  • Melakukan politik diskriminasi-dholim
  • Menipu rakyat dengan teori colonial white mans burden (orang-orang kulit putih yang mempunyai tanggungjawab)-semua punya tanggung jawab
  • Kedatangan mereka untuk mission sacree (tugas suci)-mengeruk kekayaan
  • Menanamkan nilai yang dapat menimbulkan penyakit inferiority complex (rendah diri dalam segala hal)-merusak
Akibatnya : rakyat terpecah, antar suku terbelah, antar daerah tercaik-cabik, umat seiman bertengkar. Kemudian muncul penyakit kedaerahan, penyakit kesukuan, penyakit mementingkan golongan, menyuburkan sifat kebencian, menyuburkan sifat permusuhan, kekuatan Islam lumpuh.
Pemerintah kolonial tidak hanya melakukan penjajahan militer dengan menghadirkan ribuan tentaranya ke Indonesia. Tetapi, mereka juga menjajah bangsa ini dalam segala hal. Seperti :
  • penjajahan politik
  • penjahan ekonomi
  • agama
  • penjajan social dan budaya
Akibatnya : rakyat kena wabah penyakit inferiority complex, inferior, mider atau rendah diri dalam segala hal. Sebaliknya penjajah merasa lebih superior. Rakyat juga hidup dalam serba ketergantungan dengan pemerintah penjajah.
Penjajah juga berusaha meminggirkan peran Islam dalam percaturan kehiduran sehari-hari. Strategi yang dipakai penjajah untuk meminggirkan peran Islam adalah dengan cara:
  • Memecah belah umat Islam dengan berbagai cara.
  • Islam digolongkan menjadi beberapa golongan. Seperti Islam Modern dan Islam Tradisional, Islam Liberal dan Radikal, Islam santri-priyayi-abangan.
Penjajah membuat devinisi modern yang isinya sengaja dibuat bertentangan dengan modern versi Islam.
Modern (penjajah) : Segala sesuatu yang datang dari penjajah dianggap baik dan modern. Rakyat di Belandakan dalam segala hal. Westernisasi. Atau hidup ke barat-baratan.
Modern (Islam) : Segala sesuatu yang sesuai dengan ajaran Islam. Sesuai perintah Allah dan Rosulnya Muhamad.
Tradisional/kolot/jahiliyah (penjajah) : Segala sesuatu yang tidak sesuai dengan adat istiadat penjajah.
Tradisional/kolot/jahiliyah (Islam) : Segala sesuatu yang bertentangan dengan ajaran Islam. Melanggar perintah Allah dan Rosulnya.
Sikap Para Ulama
Dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia, ulama sebagai pewaris para nabi, memiliki peranan yang besar dalam melawan peemerintah kolonialis. Di bawah pimpinan ulama, rakyat berhasil memberikan perlawanan kepada penjajah secara heroic dan patriotic. Diantara ulama yang memimpin perlawanan kepada penjajah adalah Sunan Gunung Jati (Fatahillah/Falatehan), Sultan Agung Hanyokrokusomo dan Pangeran Diponegoro di Jawa. Imam Bonjol, Teuke Umar dan Tengku Cik Ditiro di Sumatera, Pangeran Hidayat dan Pangeran Antasai di Kalimantan. Selain itu, ada Sultan Babullah di Maluku, dan Sultan Hasanudin di Sulawesi. Sayang, perjuangan para ulama tersebut masih bersifat kedaerahan. Sehingga mudah dipatahkan Belanda.
Selain melakukan perlawanan fisi, para ulama juga melakukan perlawanan dalam bentuk lain :
- Menerapkan politik non kooperatif. Yakni, mengambil jarak pemisah dan melakukan kerjasama dalam hal apapun.
- Memperkuat basis umat, dengan mendirikan lembaga pendidikan tersendiri. Seperti pondok pesantren dan musholla. Tujuannya untuk membentengi umat dari gempuran budaya penjajah.
- Bersikap keras kepada penjajah atas perilaku penjajah yang dinilai bertentangan dengan ajaran Islam. Sehingga ulama membuat fatwa haram bagi barang siapa yang berpakaian, berbahasa, bersekolah dan bergaya penjajah. Namun, perlu dicermati bahwa fatwa haram tersebut bukan dilihat dari segi hokum diniyah, tetapi dari segi siyasah. Yakni, lebih bersifat strategi politik.
- Ulama, pemimpin rakyat, hidup bersama-sama rakyat, berjuang untuk rakyat dan membina akhlak umat.
Problematika
Akibat penjajahan yang cukup lama, sampai hari ini, pengaruh penjajah masih sangat terasa. Pengaruh penjajah masih begitu mendarah daging di kalngan bangsa ini. Seperti :
- Masih banyak masyarakat yang memiliki gaya dan perilaku seperti penjajah.
- Terjadinya dikotomi ilmu pengetahuan dan lembaga pendidikan. TK-RA, SD-MI, SMP-MTs, MA-SMA, IAIN-Universitas.
- Pengelompokan Islam masih terjadi hingga hari ini. Aliran baru masih saja bermunculan. Ahmadiyah, pengaku nabi, maupun kelompok-kelompok jamaah yang mengaku paling islami.
- Penyakit inferiority complex belum dapat disembuhkan.
- Semangat berfastabiqul khoirat lemah, segalanuya diukur dengan materi
- Sikap produktifitas dan kreatifitas lemah
- Sikap keberagamaan tidak kental, dan cenderung kering.
Kegigihan Para Ulama Mempertahankan Faham Aswaja
Pada awal abad xx, di timur tengah muncul faham baru yang dipelopori Muhamad Bin Abdul Wahab. Faham baru tersebut dinamakan faham wahab atau muwahhidini. Faham baru ini juga cepat masuk ke Indonesia. Ajaran ini berprinsip kembali pada Al-Qur’an dan Hadits untuk memberantas bid’ah dan adat istiadat dengan penuh fanatisme.
Prinsip ajaran wahabi :
  1. Hanya Allah SWT yang wajib disembah
  2. Mohon berkah kepada wali, syekh dan kekuatan ghoib adalahmusyrik
  3. Melarang menyebut nabi, wali, guru, maupun malaikat
  4. Berdoa harus langsung kepada Allah tidak lewat perantara
  5. Tidak boleh memohon syafaat kepada selain Allah
  6. Merokok hukumnya haram, bila tertangkap dicambuk 40 kali
Dengan makin berkembangnya aliran wahabi di Indonesia, sikap para ulama langsung menentang keras. Sebab, dengan berkembangnya faham wahabi dapat merusak tatanan cara berakidah umat Islam. Karena itu, para ulama berusaha mempertahankan kemurnian dan kebenaran Islam yang berhaluan ahlussunah waljamaah.
Berdiri Komiti Hijaz
Sebelum berdiri komite hijaz yang dipelopori ulama NU pada tahun 1926, di Indonesia sudah mulai timbul gejala-gejala masalah khilafiah. Waktu sudah terbentuk Centre Comite Chilafah (CCC). Dibentuknya komite khilafah sebagai reaksi atas peristiwa yang terjadi Makkah. Pada tahun 1924, raja yang berkuasa di Madinah, yakni Syarif Husain, yang bernaung dibawah kekuasaan Turki, digulingkan oleh Ibnu Saud. Kemudian Ibnu Saud yang berfaham wahabi berusaha mengadakan perubahan-perubahan secara radikal dalam soal keagamaan dan kemasyarakatan termasuk ajaran yang bersifat konservatif.
Pada tahun 1926, penguasa hijaz, akan mengundang seluruh pemimpin Islam sedunia untuk menghadiri muktamar islam. Penguasa hijaz yang berfaham wahabi selalu menggencet orang-orang yang bermadzhab empat di Makah dan Madinah. Padahal sebelumnya di dua kota itu, umat Islam menggunakan madzhab empat dalam beribadah.
Pada tahun 1924, ulama di Indonesia mengadakan konggres al-islam luar biasa di Surabaya yang dihadiri berbagai unsure organisasi untuk membicarakan khilafah di Indonesia. Tokoh yang hadir antara lain HOS Cokroamonito, KH A Wahab Hasbullah, KH Mas Mansur, KH Agus Salim, KH Abdul Halim Majalengka, K Sangaji dan R Wondoamiseno.
Kemudian tahun 1925 ulama kembali menggelar konggres al-islam di Jogjakarta. Saat itu, KH A Wahab Hasbullah usul agar utusan umat Islam Indonesia yang dikirim ke Muktamar Makkah nanti mampu mendesak Raja Ibnu Saud agar melindungi kebebasan bermadzhab di Makkah dan Madinah. Namun, sampai pada konggres al-islam di Bandung, usul yang disampaikan KH A Wahab Hasbullah belum dapat menjadi catatan konggres.
Dengan peristiwa itu, akhirnya KH A Wahab Hasbullah keluar dari kepanitiaan komite khilafah. Selanjutnya beliau bergabung dengan para ulama di Taswirul Afkar dan Nahdlotul Wathon dengan restu KH Hasyim Asy’ari untuk memutuskan dan mengirim delegasi sendiri ke muktamar dunia Islam pada bulan Juni 1926 dengan membentuk komite sendiri. Yakni, komite hijaz.
Adapun susunan pengurus komitie hijaz :
Penasehat : KH Abdul Wahab Hasbullah, KH Cholil Masyhuri (Lasem)
Ketua : Hasan Gipo
Wakil Ketua : H Sholeh Syamsil
Sekretaris : Muhamad Shodiq
Pembantu : KH Abdul Halim
Kelahiran Nahdlatul Ulama (NU)
Tepat pada 16 Rojab 1344 H/31 Januari 1926, KH Wahab Hasbullah bersama kiai lain, seperti KH Hasyim Asy’ari (Tebuireng), KH Bisri Sansuri (Denanyar), KH Ridhwan (Semarang), KH Raden Asnawi (Kudus), KH Raden Hambali (Kudus), KH Nawawi (Pasuruan), KH Nakhrowi (Malang) dan KH Doromuntaha (Bangkalan) membentuk komite hijaz. Pembentukan dilakukan di kota Surabaya. Dalam rapat tersebut disepakati dua keputusan penting.
  1. Mengirim KH R Asnawi Kudus ke konggres dunia islam di Makah dengan tugas memperjuangkan hokum-hukum ibadat dalam madzhab empat.
  2. Atas usul KH Mas Alwi Abdul Azis dibentuk organisasi jamiyyah Nahdlatul Ulama’ dengan rois akbarnya KH Hasyim Ays’ari dan ketua KH Hasan Gipo.
Realisasi :
Pada tahun 1929, NU baru berhasil mengirimkan dua utusan untuk menemui Raja Ibnu Saud. Yakni, KH Wahab Hasbullah dan Syekh Genaim Al Misri. Hasilnya, Raja Ibnu Saud akan tetap menghormati pelaksanaan ibadah dan pengajian oleh guru-guru empat madzhab.(slk)


BEM STAI Almuhamad Gelar Khataman
Untuk Sambut Datangnya Ramadhan
BLORA-Badan Ekesekutif Mahasiswa (BEM) Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Almuhmad Cepu kampus B Kunduran, 6 Agustus 2010 menggelar acara khataman Al-Qur’an. Acara yang digelar Musholla Alhuda itu dimaksudkan untuk menyambutdatangnya bulan Ramadhan. Usai khataman, acara dilanjutkan dengan diskusi ilmiah yang menampilkan pembicara Sholihin Hasan alumni IAIN Walisongo Semarang, dan Yusman Chanafi MPd.I, alumni IAIN Cirebon.
Koordinator STAI Almuhamd kampus B Kunduran, Zamrodi MPdI saat memberikan kata pengantar mengatakan, acara khatamana Al-Quran tersebut dimasudkan untuk menciptakan budaya suka membaca Al-Qur’an. Sebab, ayat Al-Qur’an yang turun pertama kali memerintahkan kepada umat Islam agar gemar membaca. Baik membaca yang tersurat maupun yang tersirat. Sehingga Al-Quran sebagai pedoman hidup sudah seharusnya dibaca setiap waktu.
”Melalui acara khataman, kami menginginkan agar semua mahasiswa STAI memiliki budaya gemar membaca, khususnya membaca ayat-ayat Al-Qur’an,” ujar Zamrodi, yang juga alumni pascasaraja Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta.
Selain menggelar acara khotmil Qur’an, pihaknya juga mendorong mahasiswa agar selalu meneladani cendikian muslim pada era awal berkembangnya umat Islam. Yakni, dengan mengedepankan al-muhafadhotu alalqodimish sholeh, wal-ahdzu biljadidil ashlah. Yakni, mempertahankan hal-hala lama yang baik sambil terus mencari hal-hal baru yang lebih baik.
Dalam waktu dekat, pihaknya juga akans egera menggelar pelatihan membaca tahlil dan membaca kitab al-barzanji. Tak hanya itu, untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, pihaknya juga akan menggelar acara tanduk ambeng atau atau membaca pengantar niat hajat tumpengan.
Tanduk ambeng, saat ini masih mentradisi di tengah-tengah masyarakat. Karena itu, mahasiswa STAI Almuhamd juga harus mengetahui bagaimana tanduk ambeng seharusnya,” tandasnya.
 Sementara itu, Sholihin Hasan yang juga wartawan Radar Kudus (Jawa Pos Group) mengatakan, Al-Quran adalah kita suci yang berisi petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa. Karena itu, petunjuk tersebut harus dipahami oleh mereka yang mengau bertaqwa. Ibarat seseorang melakukan perjalanan jauh, Al-Quran adalah rambu-rambu lalulintas. Jika seseorang melakukan perjalanan dan selama perjalanan mentaati aturan lalu lintas, maka dia tidak akan tersesat.
”Kita umat Islam akan melakukan perjalan jauh menuju akherat, karena itu agar tidak tersesat maka taatilah rambu-rambu yang ada di dalam Al-Quran,” katanya.(*)

stai amc kunduran




STAI Almuhamad Gelar Tadarus Pungkasan
 
REMBANG-Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Almuhamad Cepu kampus B Kunduran, kemarin sore menggelar tadarus pungkasan. Tadarus pungkasan itu merupakan penutup atas segala rangkaian acara yang digelar selama Ramadan ini. Kegiatan itu, dihadiri dosen dan seluruh civits akademika. Acara tersebut dipusatkan di aula kampus setempat.
Zamrodi MPdI, dosen STAI Almuhamad kampus B Kunduran mengatakan, selama Ramadan ini, BEM menggelar sejumlah kegiatan. Diantaranya khataman Alquran, kajian Ramadan, dan buka puasa bersama. Selain itu, sejumlah mahasiswa dan dosen juga terlibat aktif dalam menyemarakkan suasana Ramadan di tengah-tengah masyarakat. Mereka ada yang menjadi imam sholat taroweh, penceramah, pembaca kitab kuning, tahlil dan tadarus.
”Rangkaian kegiatan itu kita tutup dengan kegiatan tadarus pungkasan,” ujar Zamrodi, yang juga alumni pascasarjana Universitas Nahdlatul Ulama’ (UNU) Surakarta tersebut.
Ditegaskan, melalui cara itu, mahasiswa akan mampu mengembangkan nalar akademik sekaligus pengabdian kepada masyarakat. Pendekatan yang digunakan adalah menjaga tradisi lama yang baik dan terus mencari hal-hal baru yang lebih baik lagi.
Sementara itu, mahasiswa STAI Almuhamad kampus E Blora kemarin juga menggelar khataman Alqur’an, diskusi, dan buka puasa bersama. Diskusi bertemakan Puasa dan Tradisi Lebaran itu menampilkan pembicara Imron MAg, kandidat doctor IAIN Walisongo Semarang. Dalam paparannya, Imron mengatakan bahwa selama Ramadan, umat Islam dilatih mengendalikan diri. Seperti menahan rasa lapar, dahaga, dan berhubungan badan dengan istri. Melalui cara itu, orang yang berpuasa diharapkan menjadi hamba-hamba yang, muhsinin, mu’minin dan muttaqin.
”Selama puasa ini, kita digembleng melawan nafsu sendiri. Bagi yang memenangkan peperangan itu, memasuki idul fitri nanti, mereka akan keluar sebagai orang-orang yang suci dari dosa dan noda,” teranganya.
Selain itu, pada bulan suci ini,kitab Alquran diturunkan kepada Nabi Muhamad SAW. Dan, ayat pertama yang turun adalah perintah membaca atau iqra’. Perintah iqra’ itu tidak hanya yang tersurat. Tetapi, apa yang tersirat juga harus diiqro’. Fenomena manusia, flora, fauna dan alam raya merupakan ayat-ayat Alloh yang harus dibaca setiap orang yang mengaku muslim.
Mahasiswa S3 dengan konsentrasi Islam Studies itu menambahkan, membaca adalah kunci kesuksesan. Semakin sering membaca, berarti harapan untuk sukses makin besar. Sebaliknya, semakin malas membaca, berarti harapan untuk sukses semakin kecil. Karena itu, kalau ingin kesuksesan, sering-seringlah membaca. Dan, puasa adalah sarana ibadah untuk menuju kesuksesan di dunia dan kherat.
Sedangkan Sholihin Hasan dari wartawan Jawa Pos Radar Kudus menambahkan, bahwa membaca merupakan metode terpenting bagi seseorang yang ingin mengetahui informasi. Karena itu, perintah membaca yang tercantum dalam Surat Al Alaq sudah saatnya dimaksimalkan. Khususnya bagi insane akademika STAI Almuhamad.(*)

Sabtu, 30 Oktober 2010

Mbah Mardjan Total Dalam Ber-NU

Mbah Maridjan Total dalam Ber-NU
Rabu, 27 Oktober 2010 16:20
Yogyakarta, NU Online
Duka menyelimuti bangsa Indonesia setelah meletusnya gunung Merapi yang menimbulkan banyak korban. Diantaranya Mbah Maridjan, sang juru kunci Merapi yang setia memegang amanah sampai akhir hayat bersama letusan Merapi.

Pernah menjabat sebagai rais NU Desa Kinahrejo, Mbah Maridjan lalu diangkat menjadi salah satu wakil rais di MWC NU Kecamatan Cangkringan. KH Nur Jamil, ketua PCNU Sleman mengatakan Mbah Maridjan figur yang sangat dihormati masyarakat dan total dalam ber-NU.

“Beliau tokoh kunci di Sleman dan sangat fanatik dalam ber-NU,” katanya.

Nur Jamil menuturkan dalam sebuah pertemuan bersama para pemuda, masyarakat dan tokoh NU pada tahun 2006 saat menjelang letusan Merapi waktu itu, Mbah Maridjan menuturkan “Saya ini agamanya NU”. Tradisi NU yang sanga kuat seperti yang dimiliki masyarakat Madura seringkali menyebut agamanya juga NU.

Meskipun tidak memiliki pengetahuan agama yang kuat, tetapi ia rajin mengikuti acara-acara pengajian selapanan (36 hari sekali dalam hitungan jawa) yang dilakukan oleh NU setempat.

“Belakangan memang aktifitasnya keluar sudah agak berkurang karena umurnya yang semakin udzur,” imbuhnya.

Ketua PBNU Muhammad Maksum, yang juga mantan ketua PWNU Yogyakarta memberikan apresiasi yang mendalam terhadap Mbah Maridjan. “Beliau orang yang teguh memegang amanah sampai akhir hayatnya. Tokoh NU lokal yang layak kita hormati,” tandasnya. (mkf)(sumber :situs :nu.or.id)

Mbah Maridjan Dalam Ber-NU

Mendiknas: Orang Miskin Dilarang Sekolah Benar Terjadi

Rifa Nadia Nurfuadah - Okezone
Selasa, 19 Oktober 2010 - 19:51 wib

Mendiknas M Nuh. (Foto: Koran SI)
JAKARTA - Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) M Nuh memaparkan hasil kerjanya selama setahun pemerintahan Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) Jilid II.

M Nuh memaparkan, program Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) erat kaitannya dengan pembangunan dalam bidang kesehatan dan penanggulangan kemiskinan.

"Data statistik menunjukkan, ada korelasi positif antara tingkat pendidikan dengan tingkat kesejahteraan dan kesehatan. Semakin tinggi tinggi tingkat pendidikan, semakin baik tingkat kesejahteraan dan kesehatan," papar Nuh kepada wartawan di Gedung Kemendiknas, Selasa (19/10/2010).

Mantan Rektor Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya ini memaparkan,  di antara program Kemendiknas yang sudah melampaui target adalah penyediaan internet bagi 17.500 sekolah di seluruh Indonesia.

Sementara, salah satu pekerjaan rumah yang harus dikerjakan Kemendiknas adalah mempersempit disparitas kesempatan belajar siswa di tiap satuan pendidikan. Di tingkat sekolah dasar (SD), dari 31,05 juta siswa, sekira 1,7 persennya putus sekolah dan 18,4 persen tidak melanjutkan ke jenjang pendidikan berikutnya.

Pada satuan sekolah menengah pertama (SMP), dari jumlah 12,69 juta siswa, 1,9 persen putus sekolah, dan 30,1 persen di antaranya tidak dapat melanjutkan ke tingkat sekolah menengah atas (SMA). 

Pada tingkat SMA, jumlah siswa putus sekolah mencapai 4,6 persen dari total 9,11 juta siswa. Pada tingkat SMA pulalah jumlah siswa yang tidak melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi (PT) sangat tinggi, yaitu sebanyak 59,8 persen.

Sementara, saat ini tercatat 4,66 juta mahasiswa. Dari jumlah ini, 6,31 persennya merupakan mahasiswa dari kalangan ekonomi miskin.

"Data ini menunjukkan, sampai saat ini pameo 'orang miskin dilarang sekolah', memang benar-benar terjadi. Karena itu, pemerintah harus menjemput bola, mencari para siswa yang tidak bisa melanjutkan sekolah untuk diberi bantuan," tegas Nuh.

Dia menambahkan, pemerintah tidak bisa membiarkan anak-anak miskin berjuang sendirian, tetapi harus ada afirmasi dan campur tangan pemerintah. Sejauh ini, bantuan pemerintah diberikan melalui berbagai skema beasiswa dan bantuan operasional sekolah (BOS).(rhs) sumber :situs okezoe

Jumat, 29 Oktober 2010

doakan Mbah Marijan

MTs Hasanudin Plosorejo Doakan Mbah Marijan

MTs Walisongo Galang Bantuan

BLORA-Keluarga Besar MTs Hasanudin Plosorejo, Kecamatan Banjarejo, Blora, mendoakan Mbah Marijan, salah korban musibah letusan Gunung Merapi. Doa dilakukan di masing-masing kelas. Doa juga dikirimkan bagi korban lainnya, baik untuk korban erupsi merapi, bencana banjir bandang di Wasior Papua mapun tsunami di Mentawi. Selain itu, doa juga dikirimkan mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Almuhamad Cepu kampus B dan E.
Doa juga dikirimkan keluarga besar MA Gandrirojo, Kecamatan Sedan, Rembang .Sementara ini kami baru bisa mengirimkan doa. Semoga semua korban diterima amalnya, diampuni dosanya dan semua keluarga yang ditinggal diberikan ketabahan dan kesabaran,” ungkap Kepala MA YSPIS Gandrirojo, Sedan, Muhtar Nuha Msi.
Doa dikirimkan secara serentak oleh semua siswa dan guru. Yakni, mereka dikumpulkan di halaman sekolah tersebut. Doa yang dipanjatkan antara lain dengan membacakan surat alfatihah dan bacaan doa lainnya.
Dikatakan, keluarga besar MA YPIS Gandrirojo secara khusus mendoakan Mbah Marijan. Karena, juru kunci Gunung Merapi tersebut adalah mantan ketua Syuriah NU Ranting Desa Kinahrejo, Kecamatan Cangkringan, Sleman. ”Semua korban kita kirimi doa, lebih-lebih kepada Mbah Marijan yang mantan pengurus NU,” tambah alumni pasca sarjana Unisma Malang tersebut.
Sementara itu, keluarga besar MTs Walisongo, Kecamatan Kaliori, kemarin mulai menggalang bantuan. Yakni, seluruh siswanya diwajibkan minimal membawa tiga bungkus mie instan dan setengah kilogram beras. Bantuan tersebut nantinya akan dijadikan satu dengan bantuan sekolah lain yang digalang LP Ma'arif Rembang.
Insya Allah, pekan depan bantuan sudah terkumpul,” kata kepala MTs Walisongo, Muhamad Ahsan.
Selain itu, pihaknya dan keluarga besar MTs Walisongo secara khsusu juga mengirimkan doa. Doa dipanjatkan dari masing-masing kelas. Dengan doa tersebut diharapkan semua korban musibah mendapat tempat yang layak di sisi-Nya.
Sementara itu, Ketua PCNU Rembang, KH Muhamad Munib Muslih mengatakan, NU Rembang melalui LP Ma'arif menggalang dukungan untuk dikirimkan kepada korban musibah bencana alam. Selain itu, pihaknya juga menghimbau agar masyarakat melaksanakan shalat ghoib untuk seluruh korban musibah bencana alam.
Kami menghimbau agar digelar shalat ghoib di masid-masjid atau musholla,” tambahnya.(*)

Minggu, 24 Oktober 2010

warnet syariah


REMBANG-Selama puasa ini, pengunjung warnet tetap ramai. Bahkan, di bandingkan hari-hari sebelum ramadan, pengunjung warnet mengalami peningkatan. Khususnya pada jam-jam menjelang buka puasa dan setelah shalat taroweh. Sedangkan untuk tarif yang berlaku tetap sama. Yakni, antara Rp 1.500 hingga Rp 2.000 per jamnya.
Rustopa, salah seorang pemilik internet di Jalan Gajah Mada menyebutkan, pengunjung yang datang ke warnetnya rata-rata adalah anak sekolah. Sehingga setiap hari efektif, warnetnya selalu ramai, khususnya pada jam-jam setelah pulang sekolah. Pada jam-jam itu, 14 bilik yang tersedia, selalu penuh.
”Karena mayoritas konsumen di sini adalah anak sekolah, maka kami sengaja menerapkan tarif cukup murah. Yakni, Rp 1.500 per jam,” ujarnya.
Untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan, pihaknya sengaja membuat warnet dengan sistem hall atau dalam ruangan terbuka. Layar monitor tidak dibuat dalam bentuk room. Sehingga dengan cara itu, bisa dihindari penyalahgunaan warnet. Seperti untuk pacaraan atau mesum. Kalau sampai mereka pacaran atau mesum, jelas akan malu dilihat orang banyak.
”Di sini tidak ada tempat untuk ngeroom,” tandasnya.
Selain itu, pihaknya juga menyediakan tulisan di depan layar mornitor masing-masing. Bahwa selama membuka internet di tempatnya pengguna dilarang membuka situs-situs porno. Selain dibuatkan tulisan berisi larangan membuka situs porno, pihaknya juga sudah berusaha memblokir sejumlah situs porno. Sehingga dengan cara itru, selama mereka berada di warnetnya akan terhindar dari hal-hal yang negatif.
Untuk siang hari, pihaknya melayani konsumen sehari penuh. Namun, untuk malam hari hanya dibatasi sampai pukul 22.00 WIB. Kemudian bagi mereka yang menginginkan shalat, pihaknya juga menyediakan tempat untuk sholat.
Sementara itu, dari pantau radar kudus, sejumlah warnet yang berada di kota penghasil garam tersebut juga tetap ramai pengunjung. Masing-masing warnet menerapkan tarif yang berbeda. Rata-rata per jamnya adalah Rp 2.000. Namun, untuk warnet yang menyediakan fisilitas AC, tarifnya sedikit mahal.(slk)

pelatihan tumpeng


BLORA-Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al-Muhamad Cepu, mengucurkan beasiswa bagi penghafal kitab suci Al-Qur'an. Beasiswa diberikan dengan membebaskan seluruh biaya SPP sejak semester I hingga semester akhir. Program itu diberikan sebagai penghargaan bagi mahasiswa yang hafidz dan hafidzah atau penghafal Al-Qur'an.
”Seluruh mahasiswa yang hafidz atau hafidzah kami gratiskan selama mereka kuliah di STAI Al-Muhamad,” ujar Ketua STAI Al-Muhamad Cepu, Kadarismanto MPdI, dengan didampingi Pembantu Ketua I, H Abdul Halim Mujtaba MHI, kemarin, di selasa acara halal bi halal, pihak yayasan, dosen dan karyawan di aula kampus setempat.
Beasiswa itu tidak hanya diberikan kepada mahasiswa baru tahun akademik 2010-2011, tetapi beasiswa tersebut juga diberikan kepada mahasiswa yang hafidz dan hafidzah di semester sebelumnya.
Sementara itu,mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama' (UNU) Surakarta yang juga staf pengajar STAI Al-Muhamad Cepu, Sholihin Hasan mengatakan, untuk meningkatkan skill mahasiswa, kemarin digelar pelatihan tanduk ambeng atau mengiqrorkan dan mendoakan kenduri. Pelatihan diberikan dalam rangka untuk memberikan skill bagi mahasiswa agar saat terjun di masyarakat nanti, mereka bisa melayani kepentingan masyarakat secara benar dan tepat. Pelatihan dilaksanakan di sekretariat LP Ma'arif, komplek Alun-Alun Blora.
”Saat ini, tradisi tumpengan masih sangat kental di tengah-tengah masyarakat. Agar acara tumpengan bisa berjalan sesuai kaidah-kaidah agama, maka diperlukan tukang tanduk yang mumpuni,” ujarnya.
Dari data yang dihimpun pihak kampus, sedikitnya ada 45 hingga 50 macam acara tumpengan. Diantaranya acara selamatan bayi lahir, pindah rumah, akan bepergian, tahlil, manakiban, berzanji, yasinan, tingkeban (tujuh bulan), ruwahan, tiga hari, tujuh hari 40 hari, 100 hari, seribu hari dan mendak atau tahunan bagi orang yang sudah meninggal.
Selain itu ada acara selamatan ngalungi sapi, sapi melahirkan, ketupatan, satu muharrom, mauludan, nuzulul Qur'an, isro' mi'roj, bancaan weton atau hari lahir seseorang, khitanan, pernikahan, campur bawur, bucu kendit, buka gebyok, mendirikan bangunan, beli kendaraan baru, membuat tarup dan aneka macam syukuran. Kemudian ada sedekah bumi, pindah rumah, pindah kerja, sedekah laut dan peletakan batu pertama pada sebuah bangunan.
”Aneka macam acara yang dilakukan masyarakat tersebut membutuhkan keahlian tersendiri. Karena masing-masing acara, iqror dan doanya juga berbeda-beda,” tandasnya.
Selain memberikan pelatihan tanduk ambeng, pihaknya juga mendorong civitas akademika untuk mengembangkan keahlian menulis. Khususnya tulisan hasil resech atau penelitian. Karena, STAI Al-Muhamad juga sudah menerbitkan jurnal ilmiah. Jurnal itu sudah terbit kali-kali secara berkala.(*)

haji rembang

Shalat Jumat Di Embarkasi
Pagi Ini Tinggalkan Rembang
REMBANG-Dua jamaah haji asla Kabupaten Rembang, pagi ini berangkat menuju embarkasi haji Donohudan Solo. Mereka yang berangkat hari ini tergabung ke dalam kloter 13 dan 14 Solo. Siang ini, mereka akan melaksanakan shalat jumat di Embarkasi.
Kasi Haji dan Umroh pada Kantor Kementerian Agama Rembang, H Mahmudi mengatakan, saat ini seluruh administrasi sudah siap. Begitu juga hal-hal yang berkaitan kelengkapan jamaah haji asal Kabupaten Rembang juga telah dipersiapkan dengan baik.
”untuk kloter 13 masuk di asrama haji sekitar pukul 10.00 WIB, sedangkan kloter 14 masuk asrama haji sekitar pukul 11.30 WIB,” ujarnya.
Kemudian, Sabtu pagi, sekitar pukul 08.00 WIB, kloter 13 akan meninggalkan tanah air. Sementara untuk kloter 14 berangkat ke tanah suci pada pukul 12.00 WIB.
Data di kantor Kementrian Agama Rembang menyebutkan dari jumlah 823 calon jamaah haji tahun 2011 ini, terbagi dalam empat kelompok terbang (kloter). Masing-masing kloter 13 sebanyak 29 orang, kloter 14 ada 375 orang, kloter 36 ada 375 orang dan kloter 38 ada 42 orang. Kloter 13 akan bergabung dengan jamaah asal Kabupaten Kebumen, Sedangkan kloter 38 rencananya tergabung dengan jamaah asal Pekalongan. Untuk kloter 36 dan 38 direncanakan berangkat pada 22 Oktober.(slk)

MA YS PIS

MA YSPIS Kaji Kitab Kuning
REMBANG-Sedikitnya 437 siswa Madrasah Aliyah (MA) YSPIS Gandrirojo, Kecamatan Sedan, Rembang, sejak awal puasa ini (2010) melakukan aneka aktifitas diluar aktifitas proses belajar mengajar rutin. Yakni, pengkajian kitab kuning, jamaah shalat taroweh di auditorium dan pendalam kitab suci Al-Qur’an. Selain itu, mereka juga menggelar buka bersama, pembagian zakat fitrah dan merencanakan acara halal bihalal.
Kepala MA YPIS, Muhtar Nuha Msi mengatakan, kendati para siswa sedang berpuasa namun kegiatan belajar mengajar tetap berjalan sebagaimana aturan yang berlaku. Namun, demi untuk meningkatkan kualitas spiritual anak dan menyambut datangnya bulan subi Ramadhan, pihak sekolah memberikan tugas tambahan. Tugas tambahan yang diberikan berkaitan dengan pendalaman ilmu keagamaan, peningkatan moralitas dan meningkat rasa solidaritas kepada sesama.
”Selama Ramadan ini, kami menempa mental para siswa. Sehingga dengan cara itu, mereka diharapkan akan menjadi pribadi yang berkualitas, populis, relegius dan berwawasan ke depan,” ujar Muhtar yang juga alumni Pascasarjana Unimas Malang tersebut.
Diantara kegiatan yang digunakan untuk menempa mental para siswa adalah jamaah sholat taroweh. Sholat taroweh bersama itu digelar setiap malam. Kemudian untuk pagi hari dilaksanakan kajian kitab kuning. Ada tujuh kitab kuning yang dikaji selaam Ramadan. Diantaranya adalah kitab Ta’limul Muta’allim. Kitab tersebut antara lain berisikan pedoman atau tata cara para siswa belajar, menghormtai kitab dan menghormati gurunya. Selain itu ada kitab Fathul Qorib yang berisikan materi hukum Islam. Untuk kajian kitab kuning, diwajibkan bagi siswa kelas X dan kelas XI.
”Para siswa juga melakukan pendalaman materi aswaja. Untuk materi ini diikuti kelas XII jurusa IPA dan IPS,” tambahnya.
Dikatakan, untuk meningkatkan rasa peduli dan cinta pada anak yatim piyatu, MA YSPIS akan menggelar buka bersama dengan 100 anak yatim. Buka bersama antara civitas studika MA YPSIS dengan anak yatim tersebut dilaksanakan pada 2 September. Kemudian pada 7 September dilakukan pengumpulan dan pembagian zakat fitrah.
“Kegiatan pembagian zakat fitrah dimaksudkan agar para siswa memiliki kepedulian kepada fakir miskin dengan memanfaatkan momentum Raamadan,” tandasnya.
Bagi siswa yang bacaan Al-Qur’an belum lancar, mereka diberikan kesempatan melakukan pendalaman. Sedangkan waktunya dialokasikan pasca sholat taroweh. Kegiatan Ramadhan akan ditutup dengan acara halal bihalal. Halal bihalal direncakan digelar pada 179 September.(slk)

SOAL UJIAN UNU tahun 2010



Ujian Mata Kuliah
Sejarah Kebudayaan dan Peradaban Islam
S2 Universitas Nahdhatul 'Ulama' (UNU) tahun 2010
Dosen : Prof. Dr. H. Nizar Ali, MA

Mahasiswa : S H O L I H I N H A S A N
NIRM : 009.10.11.1212

Soal-Soal
1.Jelaskan manfaat mempelajari Sejarah Kebudayaan dan Peradaban Islam?

Jawab :
Manfaat mempelajari Sejarah Kebudayaan dan Peradaban Islam sebenarnya cukup banyak. Menurut Prof. Dr. Nourozzaman ash-Shiddiqie, setidaknya ada empat aspek penting yang dapat diambil dari mempelajari Sejarah Kebudayaan dan Peradaban Islam. Pertama, adalah kewajiban umat Islam untuk meneladani Nabi Muhamad SAW. Oleh karena itu, rekaman dan perilaku kearifan Rasulullah perlu diketahi dan teladani generasi sesudahnya. Kedua, untuk menafsirkan dan memahami maksud al-Qur'an dan Hadits perlu memahami setting sosial histories dan kondisi psikologis masyarakat Islam pada saat itu. Ketiga, sebagai alat ukur sanad. Seperti untuk mengetahui keautentikan sebuah hadits apakah dhabit atau tidak, bagaimana perilaku keseharian seorang sanad dana sebaganya. Keempat untuk merekam peristiwa-peristiwa penting yang terjadi, baik sebelum maupun sesudah kedatangan Islam.
Selain itu, sejarah juga berfungsi untuk mengenal diri sendiri, juga sebagai cermin masa lalu untuk dijadikan pedoman masa kini dan masa yang akan datang, untuk diteladani dan dipakai sebagai alat analisis.
Manfaat lainnya, sejarah dapat dijadikan sumber inspirasi untuk membuat langkah-langkah inovatif agar kehidupan manusia dapat damai dan sejahtera baik di dunia maupun di akhirat. Memotivasi diri terhadap masa depan untuk memperoleh kemajuan serta mengupayakan agar sejarah yang mengandung nilai negatif atau kurang baik tidak akan terulang kembali. Kemudian membangun masa depan berdasarkan pijakan-pijakan yang telah ada di masa lalu sehingga dapat membangun negara menjadi baldatun tayyibatun wa rabbun gafur atau negara yang baik dan mendapat ampunan dari Allah SWT.

2.Jelaskan perbedaan yang mendasar antara sistem pemerintahan Dinasti Bani Umayah dan Dinasti Bani Abbasyiyah

Jawab :
Perbedaan sistem pemerintah yang dijalankan Dinasti Bani Umayah dengan Dinas Bani Abasyiah adalah :
1. Dinasti Bani Umayah sistem pemerintahannya antara lain :
a. Dinasti Bani Umayah bercorak Arab murni. Dimana daulat Bani Umayah pada dasarnya adalah kerajaan Arab yang mementingkan kepentingan orang-orang Arab dan melalaikan kepentingan orang-rang non Arab. Orang-orang Arab khususnya dari Arab Syuriah mendapat tempat istimewa, sementara orang-orang non Arab menjadi warga kelas dua. Sehingga sistem tersebut melahirkan kasta dalam masyarakat.
b. Dalam menjalankan pemerintahan, Dinas Bani Umayah menggunakan sistem aristokrasi. Dimana sistem kekuasaan dipegang kaum bangsawan Arab. Pemilihan pejabat istana didasarkan pada kebangsawanannya bukan didasarkan kepada keahliannya. Sehingga pembesar istana dikusai orang-orang Arab.
c. Mengeluarkan kebijakan yang diskrimintaif. Akibatnya, saat itu lahir beberapa kelompok masyarakat. Yakni, kelompok masyarakat muslim Arab, masyarakat muslim non Arab (kaum mawali) dan masyakata non muslim (kaum kafir dzimmi).

2. Dinasti Bani Abbasyiah :
a. Pemerintah Bani Abbasyiah bersikap terbuka dengan masuknya budaya asing. Seperti kebudayaan India, Persia, dan Yunani pada masa khalifah Harus ar-Rasyid dan al Ma'mun telah memberikan sumbangan bagi kemajuan budaya Islam.
b. Kewenangan khalifah mulai didistribusikan kepada orang lain. Untuk membantu khalifah, saat itu dibentuk sejumlah sekretaris dan departemen. Selain itu, di daerah-daerah juga dibentuk gubernur-gubernur. Bahkan saat itu sudah dibentuk pemerintahan di tingkat desa dan jabatan kepala desanya disebut Syekh al-Qoryah.
c. Menghilangkan kebijakan yang diskriminatif terhadap warganya. Sehingga orang muslim Arab, muslim non Arab maupun orang-orang non Islam mendapat perlakukan yang sama. Tidak ada hak istimewa untuk salah satu golongan. Bahkan beberapa golongan dari kaum mawali sempat menikmati posisi penting dalam pemerintah dinas Bani Abbasyiah. Seperti keluarga Barmak, Dinas buwaihiyah dan Dinasti Saljuk.


3.Ada sebuah pertanyaan yang menggeletik dari pengkaji sejarah : "Kenapa orang Islam itu terbelakang dan orang lain maju?" Bagaimana pendapat Anda, apa faktornya?

Jawab : Saya sependapat dengan pernyataan yang menyebutkan bahwa umat Islam saat ini terbelakang dan umat lain maju. Ada beberapa faktor yang menyebabkan kondisi itu terjadi.
a. Umat Islam terkena faham westernisasi atau faham ke barat-baratan. Dimana segala sesuatu yang
datang dari barat dianggap benar dan modern. Sebaliknya, segala sesuatu yang datang umat Islam
dianggap kuno. Padahal Islam sudah mengajarkan bahwa yang dikatakan modern adalah segala
sesuatu yang sesuai dengan perintah Allah. Sebaliknya, seluruh yang melanggar perintah Allah
SWT adalah tradisional.
b. Umat Islam terkena penyakit infiority complex atau rendah diri dalam segala hal. Karena rasa
rendah dirinya itu, umat islam tidak berani bersaing dengan umat lain yang dianggapnya lebih
maju. Padahal Islam sudah mengajarkan bahwa Islam itu tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi
dari Islam atau al-islamu ya'lu wala yu'la alaihi.
c. Umat Islam terkena faham jumud atau taklid buta. Mereka enggan berpikir keras untuk mencari
sesutu yang baru. Sikap ini mengakibat umat Islam berada di posisi stagnant atau statis.
Sebaliknya, umat lain terus bergerak maju secara dinamis.


4.Terangkan mekanisme pergantian kepemimpinan al-Khulafaur Rosyidin. Lalu, bagaimana Anda menganalisis secara historis. Mengapa terjadi dengan cara demikian?
Jawab :
Mekanisme Terpilih Khulafaur Rasyidin
Pergantian Khulafaur Rasyidin dari Abu Bakar, Umar bin Khatthab, Usman bin Affan hingga Ali bin Abi Thalib menggunakan mekanisme yang berbeda-beda. Perbedaan mekanisme itu adalah :
Abu Bakar terpilih melalui mekanisme musyawarah mufakat.
Umar bin Khatthab terpilih melalui penunjukkan secara langsung yang dilakukan oleh khalifah Abu Bakar sesaat sebelum beliau wafat.
Usman bin Affan terpilih melalui mekanis tim formatur. Dimana sebelum meninggal, Umar menunjuk enam orang sahabat untuk menentukan penggantinya.
Ali bin Abi Thalib terpilih melalui pemilihan rakyat secara langsung.

Analisis Sejarah
Terpilihnya Abu Bakar as-Shidiq melalui jalan musyawarah mufakat. Dimana, saat itu tokoh-tokoh sabahat Anshor dan ahabat Muhajirin duduk bersama untuk membicarakan pengganti Rasulullah SAW. Dalam pertemuan itu, suku Khazraj sepakat mencalonkan Saad bin Ubadah sebagai pengganti Rasul. Namun, sikap suku Khazraj tersebut belum dijawab oleh suku Aus. Kemudian mereka beradu pendapat hingga menciptakan situasi memanas. Setelah situasi berhasil diredam oleh Abu Ubadah dan Basyir bin Saad Abi Nu'man bin Basyir, kemudian Abu Bakar berpidato. Dalam pidatonya, Abu Bakar mengajak kaum muslimin untuk memilih Umar dan Abu Ubadah sebagai pengganti Rasul. Namun, pidato Abu Bakar tersebut tidak diterima oleh Umar dan Abu Ubadah. Keduanya beralasan, bahwa Abu Bakar pernah ditunjuk sebagai pengganti Rasul SAW dalam imam shalat saat Beliau sakit. Atas dasar itu, Abu Bakar dinilai lebih berhak menjadi pengganti Rasul. Mendengar alasan itu, Basyir bin Saad langsung membaiat Abu Bakar, kemudian diikuti Umar, Abu Ubadah dan seluruh yang hadir.
Berdasarkan argumen tersebut, terpilihnya Abu Bakar sebagai pengganti Rasul dilakukan secara aklamasi. Meski demikian, saat itu masih ada beberapa sahabat yang belum melakukan baiat. Seperti Ali bin Abi Thalib, Abbas, Thalhah dan Zubair. Karena dalam pertemuan di Saqifah Bani Saidah mereka tidak hadir. Namun, dalam perjalanannya, mereka akhirnya melakukan bait ke Abu Bakar.

Mengapa Terjadi Dengan Cara Demikian?
Terpilihnya Abu Bakar melalui proses musyarah dikarenakan saat itu Nabi SAW tidak meninggalkan pesan siapa yang akan mengganti sepeninggal Beliau. Saat itu, Nabi hanya meninggalkan sinyal, yakni dengan menunjuk Abu Bakar sebagai imam shalat di kala beliau sedang sakit keras. Mandat yang diberikan Nabi itu dijadikan argumen oleh beberapa orang sahabat untuk mengangkat Abu Bakar sebagai khalifah.
Selain itu, saat itu para sahabat lebih mementingkan membicarakan pengganti Rasul ketimbang mengurus jenazah Nabi SAW dengan pertimbangan agar di kalangan kaum muslimin tidak terjadi kekosongan kepemimpinan. Setelah mereka berhasil menentukan pengganti Rasul, kemudian mereka baru mengurus jenazah Nabi.
***

Setelah Abu Bakar wafat, kepemimpinannya diteruskan oleh Umar bin Khatthab. Terpilihnya Umar melalui penunjukkan langsung oleh Abu Bakar setelah beliau berembug dengan beberapa orang sahabat senior. Sistem ini mirip dengan pengangkatan putra mahkota yang ada di kerajaan. Namun, penunjukkan Umar bukan pengangkatan putra mahkota. Karena, Umar bukan putra atau keluarga dekat Abu Bakar.
Sesaat sebelum meninggal, Abu Bakar memanggil Usman bin Affan untuk menuliskan usulannya yang merekomendasikan Umar bin Khattab sebagai penggantinya. Rekomendasi Abu Bakar tersebut mendapat persetujuan dari kaum muslimin. Kenapa usulan Abu Bakar yang mengangkat Umar bin Khattab mendapat dukungan rakyat? Pertama, karena sebelum menunjuk Umar, Abu Bakar sudah melakukan musyawarah dengan beberapa orang sahabat, seperti Abdurrahman bin Auf, Usman bin Affan, dan Asid bin Hadhir. Kedua, orang yang ditunjuk Abu Bakar bukan dari keluarga dekatnya, melain tokoh yang selama ini disegani oleh masyarakat karena sifat-sifat terpujinya. Selain itu, pengkatan Umar mendapat dukungan penuh dari masyarakat. Sehingga proses pergantian kholifah dari Abu Bakar ke Umar bin Khattab berlangsung damai. Sehingga keutuhan umat Islam tetap terjamin.

Kenapa Terjadi Dengan Cara Demikian?
Penunjukkan Umar bin Khatthab untuk menjadi kholifah pengganti Abu Bakar dengan sistem seperti itu memang belum pernah terjadi sebelumnya. Namun, sikap Abu Bakar yang menunjuk Umar sebelum beliau meninggal didasarkan pada sejumlah pertimbangan.
Pertama, kekhawatiran perpecahan yang menegangkan di Tsaqifah Bani Saadah yang nyaris menyeret ke jurang perpecahan bisa terulang kembali. Agar kekhawatiran itu tidak menjadi kenyataan, Abu Bakar menunjuk penggantinya.
Keuda, golongan Muhajirin dan golongan Anshor masing-masing merasa berhak menjadi khalifah.
Ketiga, saat itu kaum muslimin baru saja memerangi kaum murtad. Sementara sebagian pasukan muslim sedang bertempur di luar kota Madinah melawan tentara Persia di satu pihak dan tentara Romawi di pihak lain. Dalam pertimbangan Abu Bakar, pasukan yang sedang berperang membutuhkan bantuan berupa tambahan pasukan, logistik dan pemikiran.
***

Kemudian pergantian Umar ke Usman dilakukan melalui sistem formatur. Dimana, sesaat sebelum meninggal, Umar menunjuk enam orang formatur yang bertugas untuk memilih kholifah. Keenam orang anggota formatur yang ditunjuk oleh Usman masing-masing Ali bin Abi Thalib, Usman bin Affan, Saad bin Abi Waqqosh, Abdurrahman bin Auf, Zubair bin Awwam dan Thalhah bin Ubaidillah. Sementara Abdullah bin Umar dijadikan anggota namun tidak memiliki hak suara. Sistem formatur tersebut tersebut mirip dengan demokrasi perwakilan. Dimana pemimpin ditentukan oleh sekolompok orang, bukan dipilih oleh rakyat secara langsung.
Mekanisme yang digunakan oleh tim formatur sebagai berikut : Pertama, yang berhak menjadi khalifah adalah yang dipilih oleh anggota formatur dengan suara terbanyak. Kedua, apabila suara terbagi secara seimbang, Abdullah bin Umar berhak menentukannya. Kalau campur tangan Abdullah tidak diterima, calon yang dipilih oleh Abdurrahman bin Auf harus diangkat menjadi khalifah. Kalau masih ada yang menentangnya, maka yang menentang harus dibunuh. Ini sesuai keterangan hasan Ibrahim Hasan dalam sebuah bukunya Islamic and History Culture From 632-1968.
Saat itu, Ali mencurigai Abdurrahman bin Auf tidak bisa berlaku adil. Karena, Abdurrahman memiliki hubungan kerabat dengan Usman bin Affan. Akhirnya, Ali meminta Abdurrahman untuk berjanji akan berlaku adil, tidak memihak, tidak mengikuti kemauan sendiri, tidak mengistimewakan keluarganya dan tidak menyulitkan umat.
Setelah Umar wafat, Abdurrahman meminta pendapat kepada anggota formatur. Hasilnya, saat itu muncul dua kandidat. Yakni, Usman dan Ali. Ketika dilakukan penjajagan pendapat di luar sidang, terjadi silang pemilihan. Dimana Usman memilih Ali sebaliknya Ali memilih Usman. Sedangkan Sa'ad bin Abi Waqash mendukung Usman, sementara Thalhah bin Ubaidillah dan Zubair bin Awwam tidak dimintai pendapat karena sedang berada di luar kota Madinah. Kemudian Abdurraham meminta pendapat masyarakat. Hasilnya, suara publik terbelah dua. Kubu Bani Hasyim mendukung Ali dan kubu Bani Umayah mendukung Usman. Akhirnya, setelah melalui beberapa pertimbangan, Abdurrahman membaiat Usman bin Affan sebagai khalifah pengganti Umar bin Khattab.


Kenapa Terjadi Dengan Cara Demikian?
Kenapa Umar bin Khattab mengambil langkah berbeda dengan Abu Bakar yang melakukan penunjukkan secara langsung. Ada beberapa kemungkinan. Pertama, saat itu Umar melihat sudah terjadi polarasi dukungan dari masyarakat terhadap beberapa orang sahabat. Seperti kubu Bani Hasyim yang menginginkan Ali dan kubu Bani Umayyah yang menginginkan Usman. Melihat polarisasi seperti itu, Umar berharap agar para sahabat memecahkannya dengan musyawarah. Mekanisme yang ditempuh adalah dengan membentuk dewan formatur. Sayang, dalam sidangnya dewan formatur tidak bisa mengambil keputusan secara bulat. Karena ada dua orang anggota tim formatur yang tidak dimintai pendapatnya dan Usman sendiri sebenarnya memilih Ali.
Kedua, lewat keputusannya Umar menginginkan agar penggantinya betul-betul orang yang mumpuni dan bisa menjaga persatuan umat Islam. Ketiga, Umar menginginkan agar keluarganya tidak diangkat menjadi khalifah penggantinya.
***

Kemudian pergantian Usman ke Ali dilakukan lewat pemilihan secara langsung. Dalam pemilihannsecara langsung tersebut, jelas ada pihak-pihak yang kecewa. Khususnya kekecewaan akan muncul dari mereka yang secara politik dirugikan dengan diangkatnya Ali. Melihat runyamnya persoalan, awalnya Ali enggan diangkat menjadi khalifah pengganti Usman. Namun, setelah didesak mayoritas sahabat dan kaum muslimin serta melihat tidak ada seorang sahabat pun yang siap menjadi khalifah, akhirnya Ali bersedia dibaiatt. Ini dilakukan demi umat muslim agar ada kepastian soal kepemimpinan.
Diangkatnya Ali ternyata banyak yang mereaksi negatif oleh beberapa orang sahabat. Reaksi negatif itu muncul karena saat itu umat dalam keadaan bingung oleh informasi yang simpang siur yang dihembuskan kaum pemberontak. Kematian Usman yang cukup mendadak dan kondisi umat yang dalam keadaan kebingunan menjadikan pengukuhan Ali sebagai khalifah tidak berjalan mulus sebagaimana pengkuhan tiga khalifah sebelumnya. Saat itu, dalam masyarakat terjadi kekacauan dan pertentangan.
Pihak-pihak yang mereaksi negatif atas diangkatnya Ali antara lain Abdullah bin Umar, Muhamad bin Maslamah, Saad bin Abi Waqosh dan Abdullah bin Salam. Mereka mengancam tidak akan membait Ali sebelum seluruh umat muslim bait. Bahkan, beberapa orang sahabat melakukan perlawanan kepada Ali. Seperti Muawiyah, Amru bin Ash dan Siti Aisyah. Sehingga selama masa pemerintahannya terjadi dua peperangan besar yang membuat sesama umat Islam saling berhadapan.

Kenapa Terjadi Cara Demikian?
Pasca meninggalnya Usman, kondisi masyarakat berada dalam ketidak pastian. Saat itu, beberapa sahabat menginginkan agar Ali bersedia dibaiat. Namun, beberapa sahabat yang lain menuntut agar Ali mengungkap siapa sebenarnya yang berada dibalik pembunuhan Usman. Tuntutan itu diajukan oleh keluarga Usman yang saat itu dipelopori oleh Muawiyah. Tuntutan itu didasarkan pada kenyataan bahwa kaum pemberontak saat itu mendukung Ali untuk menjadi khalifah.
Karena naik khalifah dalam kondisi politik yang tidak menentu, sehingga selama memimpin Ali mendapat perlawanan dari lawan-lawan politiknya. Keterpilihan Ali yang melalui pemilihan secara langsung oleh rakyat sangat potensial menimbulkan kelompok-kelompok pembangkang. Kondisi ini mirip dengan era demokrasi langsung di negeri ini. Dimana banyak calon yang kalah menggerakkan masanya untuk melakukan perlawanan kepada pemerintah yang sah.
Bola liar yang terjadi pada Ali juga disebabkan karena Usman saat masih hidup tidak sempat menyiapkan mekanisme tentang khalifah penggantinya. Ini berbeda dengan abu Bakar yang menunjuk langsung Umar, dan Umar yang membentuk tim formatur.
***